PROPOSAL RUMAH SEHAT BAGI PENDERITA PENYAKIT TBC

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis).Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002).

Tuberkulosis adalah suatu infeksi menular dan bisa berakibat fatal, yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium bovis atau Mycobacterium africanum. Tuberkulosis menunjukkan penyakit yang paling sering disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, tetapi kadang disebabkan oleh M.bovis atau M.africanum. Bakteri lainnya menyebabkan penyakit yang menyerupai tuberkulosis, tetapi tidak menular dan sebagian besar memberikan respon yang buruk terhadap obat-obatan yang sangat efektif  mengobati  tuberkulosis (Medicastore, 2011 diakses tanggal 19 April 2012).

Mycobacterium tuberculosis telah meng-infeksi sepertiga penduduk dunia. Pada tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TBC, karena pada sebagian besar negara di dunia, penyakit TBC tak terkendali.Ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif) (Departemen Kesesehatan RI, 2002).

Tuberkulosis masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang tersering di Indonesia. Keterlambatan dalam menegakkan diagnosa dan ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan mempunyai dampak yang besar karena pasien Tuberkulosis akan menularkan penyakitnya pada lingkungan,sehingga jumlah penderita semakin bertambah. Pengobatan Tuberkulosis berlangsung cukup lama yaitu setidaknya 6 bulan pengobatan dan selanjutnya dievaluasi oleh dokter apakah perlu dilanjutkan atau berhenti, karena pengobatan yang cukup lama seringkali membuat pasien putus berobat atau menjalankan pengobatan secara tidak teratur, kedua hal ini ini fatal akibatnya yaitu pengobatan tidak berhasil dan kuman menjadi kebal disebut MDR (Multi Drugs Resistance), kasus ini memerlukan biaya berlipat dan lebih sulit dalam pengobatannya sehingga diharapkan pasien disiplin dalam berobat setiap waktu demi pengentasan tuberkulosis di Indonesia (Wikipedia, 2010 diakses tanggal 19 April 2009).

Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TBC dengan kematian 3 juta orang (WHO, Treatment of Tuberculosis, Guidelines for National Programmes, 1997). Di Negara-negara berkembang kematian TBC merupakan 25% dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang, 75% penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, TBC merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.Menurut laporan WHO (1999), Indonesia merupakan penyumbang penyakit TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina.Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC dengan kematian karena TBC sekitar 140.000.Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TBC paru BTA positif (Departemen Kesesehatan RI, 2002).

Tahun 2009, di Indonesia ditemukan 566.000 pasien TB (224 per 100.000 penduduk, WHO, 2009). Setiap tahunnya diperkirakan ditemukan suspek TB sebanyak 528.000 orang (228 per 100.000 penduduk), dan pada setiap tahunnya diperkirakan ditemukan 102 per 100.000 penduduk kasus BTA positif (+), sedangkan kematian TB sebanyak 90.000 orang per tahunnya. Tahun 2010, ditemukan 1.718.193 suspek TB, 181.125 kasus TB BTA positif (+), dan 3250 pasien meninggal akibat TB (Subdit TB, 2010) (Ordinaryblog.info/2011/03).

Berdasarkan hasil survey tahun 2004, di Jawa Barat angka PrevalensiTuberculosa paru sebesar 960 per 100.000 penduduk, sedangkan di kabupaten Karawang, diperkirakan angka penderita baru setiap tahun bertambah sebesar 2.295 kasus dengan prevalensi 110 per 100.000 penduduk (Program P2PM, P2 TB.Paru.Dinkes Kabupaten Karawang 2009.)

  1. Permasalahan

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana rumah sehat bagi penderita penyakit TBC

  1. Tujuan

Menyusun perencanaan pengembangan dan pembangunan rumah sehat untuk penderita penyakit TBC

  1. Tujuan khusus

a. Mengetahui pengertian rumah sehat

b.Memahami konsep rumah sehat yang ada di Indonesia

c. Mengetahui fungsi rumah.

d.Mengetahui bagaimana penilaian rumah sehat.

e. Mengintegrasikan konsep keperawatan komunitas dalam pengembangan rumah  sehat

f. Melakukan perencanaan pengembangan dan pembangunan rumah sehat melalui indicator penyakit TBC

BAB II

Konsep rumah sehat, Keperawatan Komunitas,dan Indikator Penyakit TBC

  1. Sejarah rumah sehat

Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,  perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Rumah adalah sebuah tempat tujuan akhir dari manusia.

Rumah menjadi tempat berlindung dari cuaca dan kondisi lingkungan sekitar, menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh kembang kehidupan setiap manusia, dan menjadi bagian darigayahidup manusia Sedangkan pengertian Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial budaya, bukan hanya keadaan yang bebas penyakit dan kelemahan (kecacatan).

Perumahan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Rumah atau tempat tinggal, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Pada zaman purba manusia bertempat tinggal di gua-gua, kemudian berkembang dengan mendirikan rumah di hutan-hutan dan di bawah pohon. Sampai pada abad modern ini manusia sudah membangun rumah bertingkat dan diperlengkapi dengan peralatan yang serba modern.

Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini. Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan (Munif Arifin,2009).

Rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari rendahnya taraf kesehatan jasmani dan rohani yang memudahkan terjangkitnya penyakit dan mengurangi daya kerja atau daya produktif seseorang. Rumah tidak sehat ini dapat menjadi reservoir penyakit bagi seluruh lingkungan,jika kondisi tidak sehat bukan hanya pada satu rumah tetapi pada kumpulan rumah  (lingkungan  pemukiman). Timbulnya permasalahan kesehatandi lingkungan pemukiman pada dasarnya disebabkan karena      tingkat kemampuan  ekonomimasyarakat  yang  rendah,  karena  rumah  dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya (Notoatmodjo, 2003)

  1. Rumah sehat
  2. Definisi

Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.

  1. Tujuan di bentuknya rumah sehat

Tujuan Umum

Menyusun perencanaan pengembangan dan pembangunan rumah sehat untuk  penyakit TBC

Tujuan Khusus

1. Mencegah terjadinya penularan dan  penyakit

2. Mencegah terjadinya kecelakaan

3. Aman dan nyaman bagi penghuninya

4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

  1. Syarat-syarat rumah sehat
    1. Lantai

Saat ini, ada berbagai jenis lantai rumah. Lantai rumah dari semen atau ubin, kermik, atau cukup tanah biasa yang dipadatkan.

Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak becek pada musim hujan. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit bagi saluran pernafasan ( TBC )

  1. Atap

Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Di samping atap genteng adalah cocok untuk daerah tropis juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu maka atap daun rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng maupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, disamping mahal juga menimbulkan suhu panas di dalam rumah.

  1. Ventilasi

Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.  Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadi proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit). Fungsi kedua daripada ventilasi adalah membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri terutama bakteri patogen karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap di dalam kelembaban (humidity) yang optimum.
Ada 2 macam ventilasi, yakni :

  1. Ventilasi alamiah, di mana aliran udara di dalam ruangan tersebut terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada dinding dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain untuk melindungi kita dari gigitan-gigitan nyamuk tersebut.
  2. Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara terebut, misalnya kipas angin dan mesin pengisap udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan. Perlu diperhatikan disini bahwa sistem pembuatan ventilasi harus dijaga agar udara tidak mandeg atau membalik lagi, harus mengalir. Artinya di dalam ruangan rumah harus ada jalan masuk dan keluarnya udar

4. Cahaya

Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya di dalam rumah akan menyebabkan silau dan akhirnya dapat merusakkan mata.

Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni:

1)   Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen didalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15-20 % dari luas lantai yang terdapat dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan di dalam membuat jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di sini disamping sebagai ventilasi juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.

2)   Cahaya buatan yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya
5. Luas Bangunan Rumah

Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini berdampak kurang baik terhadap kesehaan penghuninya, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.

6. Fasilitas-fasilitas di dalam Rumah Sehat

Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut:

  1. Penyediaan air bersih yang cukup,
  2. Pembuangan tinja,
  3. Pembuangan air limbah (air bekas),
  4. Pembuangan sampah,
  5. Fasilitas dapur,
  6. Ruang berkumpul keluarga,
  7. Untuk rumah di pedesaan lebih cocok adanya serambi (serambi muka atau belakang).

Di samping fasilitas-fasilitas tersebut, ada fasilitas lain yang perlu diadakan tersendiri untuk rumah pedesaan adalah kandang ternak. Oleh karena ternak adalah merupakan bagian hidup para petani, maka kadang-kadang ternak tersebut ditaruh di dalam rumah. Hal ini tidak sehat karena ternak kadang-kadang merupakan sumber penyakit pula. Maka sebaiknya, demi kesehatan, ternak harus terpisah dari rumah tinggal atau dibuatkan kandang tersendiri.

  1. Sasaran
    1. Terlaksananya program kesehatan dan sektor terkait yang sinkron dengan kebutuhan masyarakat, melalui perberdayaan forum yang disepakati masyarakat.
    2. Terbentuknya forum masyarakat yang mampu menjalin kerjasama antar masyarakat, pemerintah kabupaten dan pihak swasta, serta dapat menampung aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah secara seimbang dan berkelanjutan dalam mewujutkan sinergi pembangunan yang baik.
    3. Terselenggaranya upaya peningkatan lingkungan fisik, sosial dan budaya serta perilaku dan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan secara adil, merata dan terjangkau dengan memaksimalkan seluruh potensi sumber daya di kabupaten tersebut secara mandiri.
    4. Terwujutnya kondisi yang kondusif bagi masyarakat untuk menigkatkan produktifitas dan ekonomi wilayah dan masyarakatnya sehingga mampu meningkatkan kehidupan dan penghidupan masyarakat menjadi lebih baik.
    5. Kebijakan dan Strategi

1)   Kebijakan

2)   Strategi

  1. Peningkatan kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) penyehatan rumah lingkungan.
  2. Peningkatan kesling dengan menekankan pada akses terhadap air minum dan sanitasi dasar,perubahan perilaku hygiene, dan sanitasi melalui Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),dan pendekatan kabupaten/kota/kawasan dan rumah sehat
  3. Peningkatan kemampuan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko(air,udara, limbah, pangan)
  4. Memperkuat survailan faktor resiko penularan
  5. Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan penyehatan rumah dan lingkungan
  1. Penyelenggaraan

Setiap rumah sehat dapat ikut serta dalam penyelenggaraan kegiatan rumah sehat atas dasardari kesepakatan dari masyarakat ( tokoh masyarakat dan LSM setempat) bersama pemerintah daerah.

  1. Aspek Teknis Rumah Sehat menurut Dep Kes

1.Pemilihan Lokasi: tanah stabil, tidak lembab, sinar matahari, ada saluran

2.Luas rumah: 14 m2 aorang pertama 9m2setiap penghuni berikutnya

3.Struktur rumah: bentuk, ukuran, rangkaian dan bahan yang efisien

4.Tersedia ruangan yg sesuai fungsinya: tidur, makan, duduk, dapur,KM/WC, tempat cuci, gudang, dll

5.Lantai rumah: kedap air dan mudah untuk dibersihkan

6.Dinding rumah: tidak tembus pandang, menahan angin/panas/dingan/air

7.Langit-langit minimal 2,4 meter

8.Ventilasi: luas bukaan 1 m2atau minimal 1/9 luas lantai

9.Pencahayaan: Cukup terang (150 LUX= 10 watt TL=40 watt pijar)

  1. Penyediaan air bersih: lokasi dan konstruksi yang saniter
  2. Pembuangan air limbah: sarana individual atau kolektif yang saniter
  3. Jamban (kakus): memiliki sendiri dengan konstruksi yang saniter
  4. Pembuangan air hujan: ada di masing2 rumah dialurkan ke parit umum
  5. Pembuangan sampah: ada bak sampah tiap rumah dan setiap kelompokrumah ada penampungan sampah
  6. Indikator digunakan untuk penilaian, pembinaan ke arah peningkatan kualitas kondisi rumah.

Butir Butir Indikator

ü Luas jendela minimal 10% luas lantai

ü Luas lobang hawa minimal 0.35% luas lantai

ü Luas lantai hunian/orang 6m2(lebar 2 m x panjang 3 m x tinggi 2,4 m)

ü Kecepatan aliran udara 5-20 cm/detik atau pertukaran 30 m3 per menit

ü Kelembaban udara 40 –50%6.Temperatur 20 –25 derajat Celsius

ü Percahayaan yang sesuai

ü Pembagian ruangan minimal 3 (tidur, duduk, dapur-makan)

ü Ada pagar dan pintu pagar

ü Ada pekarangan dan tumbuh2an yang bersih, teratur, terawatt

ü Cara penyediaan air bersih memenuhi syarat kuantitas and kualitas

ü Cara pembuangan air kotor tidak menimbulkan pencemaran

ü Cara pembuangan sampah ada penanganan khusus local

ü Konstruksi bangunan permanen, memenuhi syarat teknik

ü Kebersihan rumah harus bersih dan teratur

  1. Program Tuntuk mencapai rumah sehat

PHBS , kata yang sangat sederhana tapi ternyata masih banyak tenaga kesehatan yang belum tau apa arti PHBS. Kalaupun kita tau apa arti PHBS tapi masih segelintir orang yang mampu melaksanakan PHBS dalam kehidupan sehari – hari

ARTI PHBS

PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, adalah sekumpulan perilaku yang di aplikasikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga mampu menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Jadi PHBS merupakan wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.

PELAKSANAAN PHBS

Berdasarkan tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan nya PHBS di kelompokkan menjadi lima tatanan yaitu :

1. PHBS di Rumah Tangga

PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :

  1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
  2. Memberi ASI ekslusif
  3.  Menimbang balita setiap bulan
  4.  Menggunakan air bersih
  5.  Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
  6.  Menggunakan jamban sehat
  7.  Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
  8.  Makan buah dan sayur setiap hari
  9.  Melakukan aktivitas fisik setiap hari
    1. Tidak merokok di dalam rumah

2. PHBS di Sekolah

PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu :

1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun

2. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat

4. Olahraga yang teratur dan terukur

5. Memberantas jentik nyamuk

6. Tidak merokok di sekolah

7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan

8. Membuang sampah pada tempatnya

3. PHBS di Institusi Kesehatan

PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :

1. Menggunakan air bersih

2. Menggunakan Jamban

3. Membuang sampah pada tempatnya

4. Tidak merokok di institusi kesehatan

5. Tidak meludah sembarangan

6. Memberantas jentik nyamuk

4. PHBS di Tempat Kerja

PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :

  1. Tidak merokok di tempat kerja
  2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
  3. Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
    1.  Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan   buang air kecil
    2.  Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
    3.  Menggunakan air bersih
    4.  Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
    5.  Membuang sampah pada tempatnya
    6.  Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan

5. PHBS di Tempat – Tempat Umum

PHBS di Tempat – tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat – tempa t umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat – tempat Umum Sehat.

Tempat – tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat – Tempat Umum yaitu :

1. Menggunakan air bersih

2. Menggunakan jamban

3. Membuang sampah pada tempatnya

4. Tidak merokok di tempat umum

5. Tidak meludah sembarangan

6. Memberantas jentik nyamuk

C. Konsep Keperawatan Komunitas

a. Pengertian

Komunitas adalah sekelompok manusia yang saling berhubungan lebih sering dibandingkan dengan manusia yang lain berada diluarnya serta saling ketergantungan untuk memenuhi keperluan barang dan jasa yang penting untuk kehidupan sehari-hari.

Menurut WHO(1959) keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan social, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan, menyempurnakan kondisi social, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat akan terpengaruh secara keseluruhan.

  1. Tujuan keperawatan komunitas

1)      Tujuan umum:

Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara menyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal secara mandiri.

2)      Tujuan khusus:

  1. Masyarakat paham mengenai konsep sehat sakit
  2. Masyarakat paham mengenai konsep penyakit TBC
  3. Tertanganinya kelompok masyarakat rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan dirumah, dan dimasyarakat
  4. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan social untuk menuju keadaan sehat optimal.

c. Sasaran keperawatan komunitas

  1. Individu sebagai klien

Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan yang utuh dari aspek biologi, psikologi, sosiologi, dan spiritual.

  1. Keluarga sebagai klien

Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama, didalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan.

  1. Masyarakat sebagai klien

Masyarakat memiliki ciri yaitu adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat, norma, hukum, dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat semua warga.

d.Lingkup keperawatan komunitas

Bentuk asuhan/pelayanan langsung yang berfokus pada kebutuhan dasar komunitas yang berkaitan dengan kebiasaan atau pola perilaku masyarakat yang tidak sehat, ketidakmampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal. Keperawatan komunitaas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan kesehatan baik upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitative, maupun resosialitatif.

e. Peran perawat komunitas

1)   Pemberi pelayanan: memberikan yankep langsung dan tidak langsung kepada klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan terhadap individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

2)   Pendidik: memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dengan risiko tinggi atau kader kesehatan

3)   Pengelola: merencanakan, mengorganisasi, mengerakkan dan mengevaluasi yankep baik langsung maupun tidak langsung dan menggunakan peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan keprawatan komunitas.

4)   Konselor: memberikan konseling atau bimbingan kepada kader, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan komunitas

5)   Pembela klien (advokator): melindungi dan memfasilitasi dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan komunitas

6)   Peneliti: melakukan penelitian untuk mengembangkan keperawatan komunitas

  1. Pengertian TBC

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.(Suparman,1987)

Etiologi atau Penyebab

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberculosis.Sifat lain kuman adalah aerob.Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. (Suparman,1987)

Proses Penularan

Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif.Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei.Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering), M. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). (Amin M,1999)

Tanda-Tanda TBC

a)    Batuk lebih dari empat minggu.

b)   Batuk menahun dan berlendir, terutama waktu bangun tidur.

c)    Panas ringan (sumeng-sumeng) pada sore hari dan berkeringat pada malam hari.

d)   Rasa sakit pada dada atau punggung atas.

e)    Berat badan turun dan badan semakin lemah dalam beberapa tahun berurutan.

f)    Pada anak-anak sering kali dapat diraba di tepi kanan atau kirinya terdapat benjolan (pembengkakan kelenjar limfe superfisialis).

(Dirjen PPM dan PL,1999).

FAKTOR RESIKO

1. Faktor Umur.

2. Tingkat Pendidikan.

3. Pekerjaan.

4.Kebiasaan Merokok.

5.Kepadatan hunian kamar tidur.

6. Pencahayaan.

7. Ventilasi.

8. Kondisi rumah.

9. Kelembaban udara.

10.Status Gizi.

11.Keadaan Sosial Ekonomi.

12.Perilaku.

Pencegahan

1)   Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan suntikan BCG (imunisasi) kepada bayi umur antara 3 s/d 14 bulan.

2)   Langkah-langkah dalam rangka memberikan kegiatan imunisasi.

3)   Menganjurkan orang tua bayi agar mau membawa bayinya untuk divaksinasi, serta membantu mengumpulkan bayi-bayi pada hari yang telah ditetapkan di Puskesmas atau ditempat lain.

4)   Menyampaikan daftar bayi-bayi tersebut ke Puskesmas dan meminta petugas imunisasi. Untuk datang melakukan vaksinasi di desa.

5)   Peningkatan gizi keluarga

6)   Makan bergizi dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tubuh kita tidak mudah terkena penyakit.

7)   Langkah-langkah dalam peningkatan gizi ini yaitu dengan anjuran :

8)   Memanfaatkan perkarangan (berternak, kolam ikan, bercocok tanam).

9)   Memakan hasil pemanfaatan perkarangan. dan Menyediakan makanan yang bergizi untuk dimakan oleh keluarga.

Catatan :

1)   Ludah (air liur) dari mulut bukan contoh yang baik.

2)   Penderita dianjurkan supaya membersihkan mulutnya (kumur-kumur dan lain-lain) sesudah mengeluarkan dahak.

3)   Peningkatan kesehatan lingkungan

4)   Kuman TBC akan mati kalau terkena sinar matahari, dan sabun.Membuat dan mengusahakan rumah sedemikian rupa sehingga sinar matahari dan udara segar masuk dengan leluasa ke dalam rumah dengan jalan membuka pintu dan jendela terutama pada pagi hari.

5)   Menghindari tidur dalam satu kamar dengan penderita terutama bagi anak-anak, selam 4 minggu pertama pengobatan.

6)   Meludah di tempat khusus yang tertutup, seperti kaleng yang diisi dengan air sabun.

7)   Meningkatkan kebersihan perorangan yaitu:

8)   Mencuci tangan dengan sabun sehabis melayani penderita.

9)   Menutup mulut waktu batuk atau bersin.

  1. Indikator penyakit TBC

Statistik dipakai dalam masalah-masalah kesehatan, baik dalam rencana, aplikasi, evaluasi, maupun monitoring. Statistik menjadi penting karena setiap pencatatan permasalahan kesehatan diperlukan untuk melakukan perbaikan.Ruang Lingkup statistika kesehatan :

  • Statistika perikehidupan, berupa kelahiran, kematian, dan perkawinan
  • Mortalitas
  • Fertilitas
  • Morbiditas
  • Pelayanan Kesehatan
  • Demografi
  • Lingkungan
  • Gizi

Guna statistik kesehatan, antara lain :

  1. Mengukur derajat kesehatan masyarakat
  2. Memonitor kemajuan status kesehatan di suatu daerah
  3. Mengevaluasi program kesehatan
  4. embandingkan status kesehatan di berbagai daerah
  5. Memotivasi tenaga kesehatan dan policy maker (pembuat kebijakan,-red) untuk menyelesaikan masalah kesehatan

Menentukan prioritas masalah kesehatan

INDIKATOR adalah variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur status kesehatan.
Guna Indikator adalah untuk mengukur, memonitor, dan alat bantu evaluasi
Indikator terbagi 2 :

  1. Indikator langsung : dapat dilihat
  2. Indikator tidak langsung : tidak dapat dilihat tetapi bagaimana ia memberikan hasil

Contoh Indikator :
Imunisasi     : Indikator langsung = berapa banyak anak yang telah diimunisasi BCG.
Indikator tidak langsung = berapa banyak penurunan prevalensi TBC pada anak yang
diimunisasi BCG.
PMT pada anak    : Indikator langsung = jumlah anak yang diberi PMT
Indikator tidak langsung = perubahan status gizi anak tersebut

Contoh evaluasi apabila TBC tidak menurun : dosis tidak tepat, vaksin tidak cukup, imunisasi terlalu dalam, status gizi anak kurang sehingga tubuh tidak membentuk imun, dan lain-lain.

  1. Indikator baik apabila : VRSS
    –    Valid = mengukur yang seharusnya
    –    Reliable = hasil sama pada waktu dan keadaan berbeda
    –    Spesific = ada perubahan hanya pada fenomena bersangkutan
    –    Sensitive = peka terhadap perubahan
  2. NILAI ABSOLUT adalah jumlah orang / frekuensi

Guna nilai absolut : merencanakan perbaikan
Contoh nilai absolut : Data PUS (Pasangan Usia Subur) untuk menentukan target akseptor KB
Kelemahan nilai absolute : Tidak dapat digunakana untuk membandingkan status kesehatan antar satu wilayah dengan wilayah lain.

  1. RASIO adalah perbandingan secara relative (a/b)
    Kriteria : -a dan b tidak harus sama, a bukan bagian dari b
    Kelebihan : lebih mudah karena tidak perlu “population at risk”
    Kelemahan : Tidak dapat digunakan untuk memonitor status kesehatan dan tidak dapat menentukan nilai yang lebih besar
  1. PROPORSI dan RATE
    Proporsi                                                            : untuk data yang tidak memperhatikan waktu
    Rate                                                                       : untuk data yang memperhatikan waktu
    Proporsi dan rate dipakai untuk menentukan         : Incidence Mortality Rate, Incidence Rate, Prevelance Rate, dan lain-lan

BAB III

GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN LINGKUNGAN

1.Rumah Sehat

Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.

Mewujudkan dan membangun rumah sehat pada indikator penyakit TBC diawali dengan visi : mendukung pembangunan berwawasan kesehatan menuju indonesia sehat tahun 2012.

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan. Lingkungan pemukiman merupakan salah satu diantaranya yang selalu berinteraksi dengan manusia, karena kurang lebih separuh hidup manusia akan berada di rumah, sehingga kualitas rumah akan berdampak terhadap kondisi kesehatannya.

Tujuan analisis lanjut data susenas 2001 ini secara umum adalah melihat gambaran rumah sehat di berbagai propinsi di Indonesia, sehingga dapat dimanfaatkan untuk proses penetapan kebijakan, penyusunan rencana, maupun pengembangan program khususnya bidang kesehatan lingkungan.

Contoh gambaran rumah sehat :

Data yang diolah adalah data modul dengan unit analisis adalah rumah tangga. Data menggambarkan seluruh propinsi di Indonesia. Beberapa kelemahan analisis ini adalah tidak semua variabel untuk penilaian rumah sehat tersedia dalam data susenas. Analisis dilakukan secara deskriptif dan analitik. Penilaian rumah sehat dilakukan secara skoring terhadap 14 variabel rumah sehat dengan mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh Dit Penyehatan lingkungan Ditjen PPM&PL.

Dari hasil analisis secara nasional rumah sehat masih belum dapat mencapai target nasional Propeta tahun 2000 (sebesar 47%). Katagori rumah sehat di Indonesia Katagori baik sebesar (24.3%).Katagori sedang sebesar (41.3%), dan katagori kurang sebesar (34.4%).Persentase rumah sehat di berbagai propinsi masih rendah yaitu berkisar antara 7.1% – 36.1%. Hanya propinsi DKI Jakarta saja yang telah melebihi target Propeta yaitu sebesar 49.5%. Beberapa propinsi yang mencapai hampir 30% atau lebih dari 30% yaitu Sulut (36.1%), Kaltim (33.3%), Banten (29.5%), DIY (32.2%), dan Jabar (29.4%). Persentase rumah sehat di kawasan Sumatra sebesar 19.2%, Jawa Bali sebesar 27.6%, dan KTI sebesar 17.5%. Persentase di kota sebesar 41.6% dan di desa sebesar 11%. Pola hubungan tingkat pengeluaran rumah tangga dengan rumah sehat nasional dan desa adalah semakin tinggi tingkat pengeluaran maka semakin tinggi pula persentase rumah sehat.

Pada katagori rumah sehat di kota Karawang pada tingkat pengeluaran tinggi justru terjadi penurunan persentase rumah sehat katagori sedang. Dari analisis faktor, diketahui 4 faktor yang mempunyai peranan dalam penilaian rumah sehat (Eigenvalue >1) adalah Faktor I (SPAL, Kakus, B.Bakar Masak, Sal. Got, Air Bersih), Faktor II ( Lantai, Lokasi), Faktor III ( Kepadatan hunian, Pencahayaan), Faktpr IV ( Jenis septik tank, kepemilikan WC). Jumlah varian yang dapat dijelaskan oleh 4 faktor tersebut adalah sebesar 75.4%.

Deskripsi Alternatif :

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan. Lingkungan permukiman merupakan salah satu diantaranya yang selalu berinteraksi dengan manusia, karena kurang lebih separuh hidup manusia akan berada di rumah, sehingga kualitas rumah akan berdampak terhadap kondisi kesehatannya.

BAB  IV

PEMBAHASAN

Rumah sehat adalah rumah yang layak huni dan mendukung untuk kesehatan jasmani maupun rohani kita. Tidak harus mewah dan besar tapi lingkungan harus mendukung kesehatan fisik tidak tercemar sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Lingkungan rumah yang sehat dipercaya dapat memberikan perasaan bahagia bagi penghuninya dan dapat membuat perasaan menjadi lebih rileks.Lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual. Lingkungan tersebut mencakup unsur fisik, biologis, dan psikososial. Beberapa masalah lingkungan biologis yang perlu diantisipasi adalah pembukaan lahan baru, pemukiman pengungsi, dan urbanisasi yang erat kaitannya dengan penyebaran penyakit melalui vector seperti kuman myobaktrius tuberculosis , perubahan kualitas udara karena polusi, dan paparan terhadap bahan berbahaya lainnya. Peningkatan mutu lingkungan mensyaratkan kerjasama dan perencanaan lintas sektor bahkan lintas negara yang berwawasan kesehatan.

Dalam Rensta Kementrian Kesehatan tahun 2010-2014 dinyatakan bahwa arah pembangunan kesehatan yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar meningkatanya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud dengan penekanan pada pencapaian sasaran prioritas nasional, SPM bidang kesehatan, dan MDGs (Kepmenkes RI, 2010).

Program rumah sehat selama ini sudah di buat oleh Departemen Kesehatan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Namun kesadaran akan pentingnya pelaksaaan program ini masih belum tercapai.  Banyak keluhan gangguan kesehatan yang dirasakan oleh setiap keluarga  namun hal itu dirasakan sebagai gangguan biasa. Padahal dari gangguan yang dialami bisa saja itu merupakan sebuah gejala Sick Building Sindrome. Maka dari itu, diperlukan usaha yang tepat untuk selalu menjelaskan pola hidup sehat dan pengertian pengertian  rumah sehat itu sendiri.

Adapun program serta anggaran yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan penkes dan sosialisasi mengenai rumah sehat  kepada seluruh masayarakat Desa Lemahabang Wadas
  • Target Populasi : Kades, Masyarakat Desa Lemahabang, Kader, Toma, Toga, DinKes, Puskesmas
  • Anggaran
  • Sewa Infokus               : Rp.    100.000
  • Konsumsi                    : Rp. 3000.000
  • Foto copy Leaflet        : Rp.    500.000
  • Sewa tempat                : Rp.    500.000
  • Lain-lain                      : Rp.    400.000

Jumlah                                    : Rp. 4.500.000

 

  1. Memperbaiki lingkungan fisik, social, ekonomi, dan budaya masyarakat yang mempengaruhi rumah sehat masyarakat dengan bekerja sama dengan beberapa instansi terkait seperti dinas social, dinas kebudayaan masyarakat, maupun dinas perekonomian serta membentuk suatu kelompok kerja kesehatan yang peduli terhadap kesehatan masyarakat terutama dalam bidang Kesehatan yaitu rumah sehat untuk penderita penyakit TBC
  2. Target Populasi : Kades, Masyarakat Desa Lemahabang Wadas, Kader, Toma, Toga, DinKes, Puskesmas
  3. Anggaran
  • Sewa Gedung untuk  forum rumah sehat                                             : Rp.   20.000.000
  • Perlengkapan atau fasilitas Gedung Forum rumah sehat                      : Rp.     8.000.000

Jumlah                                                                                                : Rp.    28.000.000

 

  1. Melakukan pelatihan terhadap para kader dalam bidang kesehatan maupun sector lain agar mampu memberikan kontribusi yang optimal terhadap perkembangan kesehatan, ekonomi, budaya maupun bidang lain.
  2. Target Populasi : Kades, Kader, Toma, Toga, DinKes, Puskesmas
  3. Anggaran
  • Honor narasumber       : Rp.   2.000.000
  • Foto copy materi          : Rp.      400.000
  • Konsumsi Pelatihan     : Rp.      600.000
  • Lain-lain                      : Rp.      500.000

Jumlah                                    : Rp.    3.500.000

 

Total Anggaran          : Rp :   36.000.000

 

Berikut ini adalah analisa S.W.O.T. dari masalah rumah sehat pada penderita TBC:

  1. Strenght (kekuatan)

Program sehat  ini sangat bermanfaat bagi setiap pekerja yang menjalankannya:

  1. Menurunkan angka kemangkiran penyakit TBC
  2. Berkurangnya biaya rawat kesehatan
  3. Menurunkan penularan dan  penyakit TBC
  4. Meningkatkan derajat kesehatan keluarga / masyarakat.
  5. Weaknesss (kelemahan)

Pada pelaksanaan program ini belum disosialisasikan dengan baik oleh pemerintah dan belum adanya kesiapan dari pemerintah dalam menjalankannya. Sehingga keluarga / masyarakat  masih meragukan program itu.

  1. Opportunity (peluang)

Program rumah sehat di Indonesia masih kurang dipahami oleh Keluarga namun dengan adanya sosialisasi rumah sehat ke setiap masyarakat dapat menjadikan  kondisi lingkungan rumah yang baik dengan keluarga yang sehat dan nyaman.

  1. Threatment (ancaman)

Program rumah sehat ini berhubungan dengan pengawasan terhadap orang, bangunan, material dan metode yang mencakup lingkungan rumah agar keluarga / masyarakat tidak mengalami penularan. Terkadang luput dari mata pengawasan petugas maupun dinkes itu sendiri.  Semua keluarga / masyarakat  belum menyadari pentingnya rumah sehat. Sehingga pihak dari keluarga / masyarakat  ataupun masing-masing individu tidak menjadikan itu sebagai hal penting, yang terpenting rumah adalah tempat berteduh yaitu terhindar dari terik matahari dan hujan saja.


BAB V

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Rumah sehat adalah rumah yang layak huni dan mendukung untuk kesehatan jasmani maupun rohani kita. Tidak harus mewah dan besar tapi lingkungan harus mendukung kesehatan fisik tidak tercemar sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Lingkungan rumah yang sehat dipercaya dapat memberikan perasaan bahagia bagi penghuninya dan dapat membuat perasaan menjadi lebih rileks. Lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual. Lingkungan tersebut mencakup unsur fisik, biologis, dan psikososial.

Peran tenaga kesehatan dalam menangani penyakit TBC adalah  melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehata yang meliputi pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit pada masyarakat khususnya desa Lemahabang Wadas dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang kesehatan dan pengobatan.

  1. B.     Saran

Rumah sehat dalam membangunan  derajat kesehatan khususnya penyakit TBC sangat penting karena akan Mencegah terjadinya penularan penyakit terhadap keluarga / masyarakat, Menurunya ketegangan jiwa dan sosial dan Mencegah berkurang perekonomian keluarga / masyarakat terhadap penyakit TBC. Olehnya karena itu rumah sehat  harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat khususnya bagi yang menderita penyakit TBC.

 

By denny46

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s